HomeTips & TrickMountaineeringTernyata Begini Cara Menentukan Arah Kiblat Saat Berada di Puncak Gunung

Ternyata Begini Cara Menentukan Arah Kiblat Saat Berada di Puncak Gunung

Salah satu kendala yang sering dialami oleh para pendaki adalah mereka kebingungan bagaimana cara menentukan arah kiblat saat dalam perjalanan maupun setelah sampai di puncak. Seperti yang telah diketahui, kiblat merupakan salah satu syarat sah untuk melaksanakan ibadah salat. Maka dari itu, mengetahui arah kiblat sangatlah penting sebelum menunaikan ibadah salat. 

Salah satu cara sederhana sejak zaman dahulu sebelum adanya alat navigasi modern seperti sekarang ini adalah memperhatikan gerak semu harian matahari sebagai patokan untuk menentukan arah, termasuk kiblat. 

Sudah dapat dipastikan bahwa terbitnya matahari di sebelah timur, begitupun sebaliknya terbenamnya matahari di sebelah barat. Dengan begitu, arah kiblat dapat diketahui sebab kiblat berada di kota Mekkah atau Asia Barat. Cara menentukan arah kiblat selengkapnya, mari cek ulasannya di bawah ini.

Cara Menentukan Arah Kiblat

cara menentukan arah kiblat

1. Menggunakan Kompas

Cara yang paling mudah untuk menentukan arah kiblat di gunung adalah menggunakan kompas. Kompas merupakan alat penunjuk arah mata angin yang memanfaatkan daya magnet dari kutub magnet di bumi. Sehingga, Eigerian akan dengan mudah untuk menentukan arah utara, selatan, timur dan barat saat di gunung. Saat ini, ada dua jenis kompas yang beredar di pasaran, yang yaitu kompas analog dan kompas digital. 

Kompas bidik analog dapat dipakai tanpa bantuan energi listrik, yang artinya Eigerian bisa menemukan arah kiblat dengan tepat di siang hari maupun malam hari. Caranya cukup mudah, yaitu:

  • Berdiri di tempat terbuka yang tidak tertutup tebing batu.
  • Lalu buka kompas bidik analog dengan posisi mendatar.
  • Baca panah penunjuk arah barat dari kompas bidik analog tersebut.
  • Maka di situlah arah kiblat untuk salat.

Jenis kompas yang kedua adalah kompas digital. Kompas digital ini adalah kompas yang bekerja dengan sistem digital sehingga membutuhkan daya listrik dari baterai. Kompas digital biasanya terinstal di perangkat GPS, Smartphone, dan Smart Watch. Kompas digital ini memiliki fitur yang jauh lebih lengkap daripada kompas analog, sehingga pendaki cukup mengkalibrasi kompas digitalnya dan tinggal baca petunjuk arah kiblat dari kompas tersebut. 

Nantinya, kompas digital akan menunjukkan arah mata angin secara detail, dan Eigerian akan menemukan arah kiblat dengan cepat. Selain memiliki banyak kelebihan, kompas digital juga memiliki kekurangan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Kompas sangat bergantung pada daya listrik dalam baterai.
  • Pembacaan kompas bisa error saat udara dingin, sebab udara dingin dapat mempengaruhi kinerja dari perangkat elektronik di dalam kompas.
  • Harga kompas digital relatif lebih mahal.

2. Menggunakan Peta Pendakian

Selain menggunakan kompas, cara menentukan arah kiblat di gunung selanjutnya adalah menggunakan peta pendakian. Setiap regu pendakian yang ingin mendaki gunung, biasanya akan diberikan peta jalur pendakian, di mana di setiap peta jalur, pasti terdapat petunjuk arah mata angin di pojok kanan atas. 

Jika Eigerian telah mempelajari medan pendakian dengan baik, maka Eigerian akan dengan mudah menemukan arah kiblat menggunakan peta pendakian. Cara menentukan arah kiblat di gunung dengan peta pendakian cukup mudah, yaitu:

  • Pertama, cari tahu posisi keberadaan Eigerian di dalam peta pendakian. Langkah paling mudah adalah merunut arah pendakian dari pos pendakian terdekat.
  • Lalu, posisikan peta pendakian sejalur dengan arah mendaki gunung untuk melakukan kalibrasi arah.
  • Setelah itu, baca penunjuk arah mata angin utara, selatan, timur, barat dengan berbekal peta pendakian.
  • Lalu tandai arah bawah pada pohon terdekat sebagai arah kiblat.

Baca juga: 5 Upaya Menjaga Kebersihan Gunung Mulai dari Langkah Sederhana

3. Melihat Lumut di Batang Pohon

cara menentukan arah kiblat

Perlu diketahui bahwa secara alamiah, pucuk pohon akan selalu menyongsong arah datangnya cahaya matahari pagi. Pasalnya, daun membutuhkan cahaya matahari untuk fotosintesis. Dengan mengamati pola tumbuhnya ranting pepohonan di gunung dan arah pucuk ranting, maka Eigerian dapat menebak arah timur. Namun sayangnya, tidak semua orang bisa jeli untuk melihat pola tersebut di dalam hutan. 

Solusinya, pakai saja lumut sebagai penanda arah barat. Lumut merupakan tanaman yang menyukai kondisi lembap. Dengan begitu, lumut akan menghindari area yang terlalu panas, kering, dan sering terkena sinar matahari. 

Perilaku lumut tersebut dapat dipakai untuk menentukan arah mata angin. Bagian pohon banyak ditumbuhi lumut akan menunjukkan arah barat, sedangkan bagian yang sedikit ditumbuhi lumut menunjukkan arah timur. Untuk lebih mudahnya, ikuti langkah-langkah berikut:

  • Cari beberapa pohon besar yang telah berumur puluhan atau ratusan tahun di sekitar.
  • Lalu, kelilingi pohon tersebut dan amati pola pertumbuhan lumut yang menempel di batang pohon. Jika masih ragu, Eigerian dapat meraba sekeliling batang pohon. Dengan meraba, Eigerian bisa merasakan bagian batang pohon yang kering dan lembap.
  • Selanjutnya, amati pertumbuhan lumut dari batang bawah sampai batang atas pohon. Bagian batang pohon yang kering dan jarang ditumbuhi lumut menunjukkan arah timur, sedangkan bagian pohon yang ditumbuhi banyak lumut menunjukkan arah barat.
  • Setelah tahu arah barat, segera tandai dengan kain penanda, sehingga pada arah itulah kiblat yang akan dipakai untuk salat saat di gunung.

Baca juga: 5 Tips Ampuh untuk Selamat saat Tersesat di Hutan

Jangan Lupa Bawa Perlengkapan Salat!

Kalau sudah tahu bagaimana cara menentukan arah kiblat saat berada di gunung, kini Eigerian bisa lebih tenang, bukan? Jangan lupa lengkapi perlengkapan ibadah dengan EIGER FOLDABLE SAJADAH yang dirancang khusus untuk kegiatan hiking atau traveling. Produk sajadah ini dilengkapi dengan bahan water repellent yang tidak mudah ditembus air atau hujan dengan intensitas ringan. 

Selain itu, sajadah ini juga berdaya tahan kuat sehingga dapat membuat Eigerian tetap nyaman saat melakukan ibadah salat, bahkan di permukaan tanah yang basah atau permukaan yang kurang rata sekalipun. Saat tidak dipakai, Eigerian dapat menggulungnya menjadi ukuran yang lebih kecil. Dimension product 110 x 60cm, sedangkan foldable dimension-nya hanya 15 x 6.5cm. Sangat praktis, bukan? Selain mudah untuk dikemas menjadi ukuran yang lebih kecil, sajadah ini juga dilengkapi dengan kompas yang berfungsi sebagai alat navigasi, lho!

Dapatkan perlengkapan mountaineering dan peralatan naik gunung terlengkap hanya di website Eiger Adventure. Mendapatkan berbagai produk terbaik dan original dari EIGER dengan cara belanja online di website Eiger Adventure Official, #PastiMakinAsyik! Tunggu apa lagi, cek koleksi terbarunya sekarang! 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments