HomeNews & InfoEIGER FriendsPetualangan Budaya di Desa Hinua dan Desa Balla

Petualangan Budaya di Desa Hinua dan Desa Balla

Hai! Aku, Salini Rengganis, kembali lagi untuk menuliskan catatan tentang perjalanan yang aku lakukan bersama tim EIGER Adventure dan TORAJAMELO ke Sulawesi dalam program “Suara Dari Sulawesi”. Eh, sudah baca catatan perjalanan ku yang pertama? Aku mau lanjutkan lagi catatan perjalanan ku ke Sulawesi. Kali ini aku akan bercerita tentang petualangan budaya di Desa Hinua dan Balla. Penasaran? Selamat membaca ceritaku, ya!

Petualangan Budaya di Desa Hinua, 11 Desember 2023 

Acara Penyambutan di Desa Hinua

Acara Penyambutan di Desa Hinua

Selamat pagi dari Desa Hinua!

Pagi ini kami disambut dengan acara penyambutan yang dimulai dengan “saweran” dari kepala desa setempat. Berbeda dengan saweran di Pulau Jawa yang sering kami jumpai, uang-uang saweran justru dimasukkan ke topi yang digunakan oleh penari. 

Terlihat para penari yang mulai menunjukkan kelihaiannya dengan iringan musik berupa gong kecil. Meriah! Setelah tari-tarian selesai, kami dipasangkan kain tenun hasil buatan masyarakat setempat sebagai tanda bahwa kami sebagai tamu sudah diterima sebagai saudara mereka. Sambutan yang hangat!

Terlihat beberapa perwakilan masyarakat yang menyambut kami menggunakan kain tenun Sekomandi, kain tertua dari Sulawesi. Sesuai dengan tujuan upacara penyambutan, kain tenun Sekomandi terdiri dari dua kata yaitu “seko” yang artinya persaudaraan atau kekeluargaan, serta “mandi” yang artinya kuat atau erat.

kain tenun Sekomandi - kain tenun tertua dari Sulawesi
Kain Tenun Sekomandi – Kain Tenun Tertua Dari Sulawesi

Ketua adat setempat pun bahkan menjelaskan bahwa hanya Desa Hinua yang masih memproduksi kain Sekomandi, yang artinya kain ini sudah punah di 8 desa lainnya yang ada di Kalumpang. 

Mengintip Tradisi Pembuatan Kain Tenun

pembuat kain tenun tradisional di Desa Hinua, Sulawesi

Petualangan budaya di Desa Hinua pun dimulai! Kami juga diajak keliling oleh Bu Hermin, seorang penenun di Desa Hinua. Kami diajak melihat proses pembuatan kain tenun, mulai dari menata setiap helaian benang, diikat, dan ditenun sesuai pola yang sudah ada. Sangat apik!

Hebatnya lagi, penenun dari Desa Hinua masih menggunakan pewarna alami, lho! Ada pewarna dari daun maupun akar. 

proses pembuatan kain tenun di Sulawesi
Proses Pembuatan Kain Tenun Yang Sangat Apik

Bu Hermin menunjukkan satu buku panduan, yang beliau sebut sebagai “Suku Makki”. Di dalam buku itu berisi panduan pattern tenun yang sudah disusun oleh nenek moyang. Ia meyakini bahwa pattern dan warna dalam pembuatan kain tenun khususnya kain Sekomandi tidak boleh diubah sama sekali. Itulah yang menjadi alasan kenapa Bu Hermin selalu membawa buku yang tersisa satu ini kemana-mana. 

Di desa Hinua terlihat satu toko milik Ibu Kristin yang menjual hasil tenun masyarakat setempat. Mulai dari syal, sampai ukuran kain yang lebih besar. Kata Ibu Kristin, kain berukuran kecil seperti syal yang lebih mudah terjual. Mungkin karena harganya yang lebih terjangkau ya…

Petualganan Budaya: Mencoba Baju Adat Setempat di Desa Hinua, Sulawesi
Aku Dalam Balutan Baju Adat Setempat

Aku pun sempat mencoba baju adat setempat. Ada yang berwarna hitam, untuk digunakan saat acara kematian, dan ada yang berwarna merah, untuk digunakan saat acara pernikahan. 

Ternyata, dulu tidak semua orang bisa menggunakan baju adat ini. Hanya mereka dengan kasta tertentu yang bisa. Namun, seiring perubahan zaman, tidak hanya kasta tertentu yang bisa menggunakan baju adat tersebut, bahkan orang dari luar daerah pun dibolehkan selama sudah mendapat izin dari warga setempat. Aku merasa sangat beruntung bisa mencoba baju adat setempat dalam petualangan budayaku di Desa Hinua ini!

Baca Juga: Tentang Perjalanan ke Celebes: “Selamat Datang di Sulawesi!”

Regenerasi Penenun Kian Menurun

Bu Hermin - Seorang Wanita Penenun di Desa Hinua
Bu Hermin – Seorang Penenun di Desa Hinua

Cukup lama kami menghabiskan waktu bersama ibu-ibu penenun disini. Dari obrolan dengan Bu Hermin, kami melihat bahwa ketertarikan masyarakat untuk menjadi penenun sudah semakin menurun. Buktinya, dari 9 desa di Kalumpang, hanya Desa Hinua yang masih aktif menghasilkan kain tenun.

Bu Hermin juga bercerita, salah satu cara untuk mempertahankan budaya bangsa ini dengan aktif ikut pameran dan membina penenun muda. Aku sangat setuju dengan Bu Hermin! Namun sayang, masih sedikit orang yang berkunjung ke desa ini, ditambah lagi mereka juga kebingungan untuk mempromosikan hasil karya mereka, Bu Hermin menambahkan. 

Kalau kalian membayangkan Desa Hinua adalah desa yang sangat terpencil dan jauh dari perkembangan zaman, kalian keliru! Desa ini sudah cukup modern dan mengikuti perkembangan zaman untuk bisa menerima para turis, kok. Buktinya, di rumah Bu Kristin pun ada playstation lho! Bagaimana, apakah Eigerian tertarik untuk mengunjungi Desa Hinua dan belajar menenun disana? Seru lho!

Tepat jam 12 siang kami pun berpamitan, karena ada perubahan dari rencana semula. Kami melanjutkan perjalanan ke Desa Balla di Mamasa. 4 jam perjalanan untuk menuju kesana.

Baca Juga: 6 Wisata Petualangan Seru untuk Pengalaman Tak Terlupakan

Petualangan Budaya di Desa Balla, 11 Desember 2023

Petualangan Budaya di Desa Balla: Rumah Tanpa Paku di Atas Bukit
Rumah Tanpa Paku di Atas Bukit Desa Balla

Sesampainya di Desa Balla, kami mengunjungi rumah Pak Thomas. Rumah di atas bukit dan hanya ada satu rumah disana. Pak Thomas ini menjabat sebagai ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) untuk Desa Balla. 

Rumah beliau besar sekali. Kayaknya cukup untuk 30-40 orang. Proses pembuatannya saja sampai 4 tahun. Dan yang menarik perhatian kami, rumah ini dibangun tanpa paku! 

Seperti banyak daerah di Sulawesi lainnya, tuak menjadi ciri khas desa ini. Namanya Balo, tuak dari pohon aren. Ada 2 jenis, yang manis dan agak pahit. Disini, Balo sudah jadi minuman sehari-hari untuk menghangatkan badan. 

Kami bermalam di rumah Pak Thomas sebelum melanjutkan petualangan budaya kami ke Desa Ballatumuka. Nanti aku lanjutkan lagi cerita tentang perjalanan ke Desa Ballatumuka yang aku dan tim lakukan, ya! Jangan lupa untuk tonton video tentang perjalananku ini di youtube lho… Selamat menyaksikan ya, Eigerian!

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Rensi Gabrilla Renanda Aan Claudia on Daftar Menu Makanan dan Cara Tepat Mengolahnya Saat Mendaki
Syamsul Alam Habibie Sahabu on Promo 2.2 Seru Belanja Outfit Riding Terbaru
Rensi Gabrilla Renanda Aan Claudia on Promo 2.2 Seru Belanja Outfit Riding Terbaru
Rensi Gabrilla Renanda Aan Claudia on Promo 2.2 Seru Belanja Outfit Riding Terbaru